Bangunan Tua di Semarang yang Dulunya Istana Raja Gula, Sekarang Digunakan untuk Ini
Kota Semarang diketahui mempunyai banyak bangunan tua dengan arsitekturnya yang cantik. Dari banyaknya bangunan tua itu, ada satu bangunan tua yang dahulunya sebuah istana. Bangunan itu namanya Gedung Balekambang.
Dikutip dari Liputan6.com, Gedung Balekambang dahulunya sebuah istana seorang raja gula sebagai orang paling kaya se-Asia Tenggara. Si raja gula itu namanya Oei Tiong Ham.
Dahulunya, Oei Tiong Ham jadi raja gula dengan mempunyai lima buah pabrik gula dan perkebunan tebu yang semua terdapat di Pulau Jawa. Kecuali melakukan bisnis gula, ia bergerak pada usaha asuransi dan di bagian import candu.
Tipe Permainan di Provider Slot Joker123
Ia selanjutnya wafat di tahun 1924 sebab penyakit serangan jantung. Jalannya perusahaan selanjutnya diteruskan oleh anaknya sampai pada 10 Juli 1961 semua asetnya diambil alih negara. Lantas bagaimana nasib istana si raja gula sekarang?
Dalam buku berjudul "Cerita Ironis Oei Hui Lan" yang dicatat Agnes Davonar pada 2012, dikisahkan jika gedung Balekambang adalah kompleks istana paling besar di Semarang, serta besarnya melewati rumah Gubernur. Rumah itu berpenampilan ciri khas Italia dengan susunan lantai keramik putih. Walau bagaimanapun, setiap sekatnya dilapis bambu yang seperti istana kerajaan di China.
Keseluruhan, gedung Balekambang mempunyai 200 ruang ditambah dapur, villa pribadi, serta dua pavilium besar. Di ujung belakang tempat tinggalnya, ada rumah yang diutamakan buat pelayan-pelayan pribumi. Sesaat disamping selatannya, ada satu dapur serta tempat spesial pijat buat Goei Bing No, istri Oei Tiong Ham.
Kemewahan istana si raja gula tidak cukup sampai disana. Oei Hiu Lan, anak ke-2 dari Oei Tiong Ham serta akui jika tempat tinggalnya itu besar sekali, serta sampai mempunyai danau bikinan pribadi serta rumah beribadah spesial buat beberapa pelayannya.
Untuk mengatur istana sebesar itu, diperlukan 40 asisten rumah tangga yang dipimpin seorang Majordomo. Tidak itu saja, ada 50 orang tukang kebun yang bekerja mengatur rumput serta tanaman.
Untuk kepentingan dapur, ada dua koki yang dari China serta Eropa yang dihadirkan spesial oleh Oei Tiong Ham.
Menurut Oei Hiu Lan, ayahnya mempunyai hasrat yang tinggi sekali dalam soal makanan. Dia menyenangi masakan Eropa serta kombinasi masakan China-Jawa.
Istana itu mempunyai luas 9,3 hektar. Serta karena sangat luasnya, Oei Hiu Lan akui seringkali tersesat di istana yang tempat tinggalnya itu. Untuk itu dia mempunyai pelayan spesial sebagai pemandu di tempat tinggalnya sendiri.
Dengan cara arsitektur, Istana Oei Hiu Lan sendiri dihiasi tiga lampu menggantung yang ada di teras. Tidak itu saja, dibagian dalam disiapkan ruangan dansa yang dipakai Oei Tiong Ham dalam menyongsong tamu.
Dibagian depannya, istana itu disangga oleh delapan tiang. Semua ornament yang ada membuat istana itu terlihat eksklusif serta classic.
Di tahun 1961, semua asset Oei Tiong Ham diambil alih negara sebab keluarganya didakwa lakukan penggelapan pajak. Sebab peristiwa itu, perlahan tempat sisa istana itu jadi tempat pemukiman masyarakat sampai sisa beberapa ratus mtr. persegi saja. Disamping itu, gedung intinya disewa untuk kantor Kewenangan Layanan Keuangan (OJK) Kantor Regional III daerah Jateng-DIY.
Meskipun aktif dipakai untuk gedung perkantoran, tetapi beberapa satpam yang jaga gedung itu seringkali alami peristiwa aneh. Antara peristiwa itu ialah kursi-kursi yang beralih tempat sendirinya, beberapa suara aneh, serta penampakan makhluk halus.
